Thursday, October 8, 2009

Kacapi Waditra Karawitan Sunda

Oleh : Ulfah Puspasari


Titi laras Da, Mi, Na, Ti, La, Da, terdengar merdu dari sebuah alat musik atau dalam Istilah karawitan Sunda disebut waditra karawitan Sunda. Waditra ini berbetuk seperti sebuah peti, berukuran panjang, yang lebar sisi kanannya lebih besar dari pada sisi kirinya. Di atas peti tersebut, berjajar 20 kawat yang menyerupai senar. Kawat terpanjang dan terbesar memiliki nada rendah, sedangkan kawat terpendek dan terkecil, memiliki nada tinggi. Biasanya para penabuh alat musik ini, harus pandai memadukan kedua tangannya untuk memetik kawat-kawat tersebut. Itulah waditra kacapi, dari tanah sunda.

Agar kacapi dapat mengeluarkan suara yang merdu/ haruslah terdiri dari kotak kayu, kawat, inang, peureut, dan kunci kacapi. Kotak kayu kacapi menyerupai peti/ yang di dalamnya kosong dan bagian bawahnya berlubang, berfungsi sebagai resonator atau ruang udara. Kawat kacapi, berfungsi sebagai penghasil sumber bunyi. Kawat-kawat tersebut dipertegangkan oleh inang, agar dapat mengeluarkan bunyi. Tinggi dan rendahnya suara kawat kacapi, direntangkan dan dilonggarkan oleh peureut. Sedangkan alat untuk merentangkan dan melonggarkannya / menggunakan kunci kacapi.

Keanggunan kacapi, terlihat dari bentuk dan warnanya yang khas. Kayu albasia dari kota Sumedang dan kayu kanana, menjadi bahan dasar kotak atau peti kacapi. Sedangkan kawat-kawatnya, terbuat dari besi dan stanles.

Pembuatan kacapi tidaklah sulit, hanya dengan waktu tiga hari, dapat menghasilkan sampai sepuluh buah kacapi. Hal tersebut juga diungkapkan ATEP seorang pengrajin alat musik kacapi. Awalnya kayu alba dipitong sesuai kebutuhan, kemudian diserut, dan dijemur sambil di bolak-balik agar kayu tidak bergelombang. Lalu, kayu-kayu tersebut dipasang, hingga menjadi sebuah peti. Agar penampilan kacapi lebih indah, kacapi di plitur dan di cet dengan warna-warna gelap. Setelah itu, inang, peureut, mata itik, dan kawat, dapat dipasang dengan menggunakan paku sebagai penahannya.

Pada dasarnya, kacapi Sunda terdiri dari dua macam. Kacapi kawih yang berfungsi untuk mengiringi kawih, dan kacapi tembang yang berfungsi untuk mengiringi tembang. Sedangkan kacapi tembang, memiliki macam yang berbeda-beda. Ada kacapi perahu, karena bentuknya seperti perahu. Ada kacapi gelung, karena sisi bagian kanannya membentuk gelung atau sanggu. Biasanya, kacapi ini dipakai untuk tembang Cianjuran. Ada pula kacapi rincik, kacapi yang ukurannya kecil.

Dalam alat musik barat, seperti gitar, piano, biola dan lain-lain, ada yang disebut tangga nada diatonis. Tangga nada ini, memiliki notasi do, re, mi, fa, so, la, si, do. Sedangkan dalam waditra Sunda, istilah tangga nada disebut laras dan memiliki notasi da, mi, na, ti, la, da. Namun, kacapi juga ada yang menggunakan tangga nada atau laras diatonis. Biasanya, dipakai untuk lagu dangdutan, dan lagu-lagu perjuangan.

Pada dasarnya ada dua macam cara menabuh kacapi, yang pertama disintreuk, itu yang digunakan oleh tangan kanan, menggunakan kuku bagian luar. Yang ke dua di toel, ini oleh kuku kiri bagian dalam. Tapi selain yang disintreuk dan ditoel, juga ada yang disebut diranggeum. Diranggeum Itu bisa dua atau tiga jari yang digunakan untuk memetik kacapi. Biasanya tangan kiri dua jari, tangan kanan tiga jari biasanya.

Sebagaimana alat musik tradisional lainnya, waditra kacapi kurang terinformasikan di industri musik global. Walau begitu, banyak prestasi yang telah diraih oleh para juru kacapi. Dalam dunia karawitan Sunda, Almarhum Mang Koko adalah juru kacapi kawih yang termahir. Kini, kemahirannya dilanjutkan oleh anak kandungnya Tatang Binyamin. Tatang Binyamin pun, sempat mengajar kacapi kawih di Jepang bersama rombongan Nano Suratno. Sedangkan kacapi tembang, dipopulerkan oleh Almarhum Uking Sukri. Kemahirannya, terbukti ketika mengajar kacapi tembang pada seorang Belanda, Wim Van Janten. Selain itu, dosen Tembang Cianjuran STSI Bandung, Iyus Wira, mengajar kacapi dan tembang Sunda di Belanda selama 40 hari.

Kurangnya waditra kacapi terinformasikan di industri musik global, juga dirasakan DOLI seorang Mahasiswa Unpad yang sedang mendalami waditra kacapi. Di setiap komunitas seni yang dia ikuti, tidak ada generasi muda yng mendalami waditra kacapi. Dia berharap, waditra kacapi mulai berkembang dikalangan anak muda, bahkan waditra kacapi pun dapat dikolaborasikan dengan alat muasik lainnya.

penulis adalah mahasiswi jurusan jurnalistik angkatan 2004

No comments:

Post a Comment

Post a Comment